by: Khabibul Umam - Mahasiswa Ilmu Perpustaakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Jumat, 20 Agustus 2021

Tahukah Kamu, dalam Dirimu Ada “Harta Karun” Tersembunyi?!



Oleh: Khabibul Umam, S.IP

Ya, dalam diri setiap insan di dunia ini terdapat “Harta Karun” tersembunyi. Dan bisa dipastikan bahwa setiap orang yang hidup di dunia ini memilikinya. Karena harta karun ini adalah salah satu anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Masalahnya adalah apakah diri kita sudah menyadarinya atau belum? Hmmm…

 

Emas? (gak mungkin lah ya di dalam diri kita ada emas batangan, haha), jantung?, ginjal?, No No No, absolutely not that what I mean.

 

Yang saya maksudkan dengan “Harta Karun” dalam diri kita adalah “knowledge”, ya, “pengetahuan”.

Knowledge merupakan informasi yang dikombinasikan dengan pengalaman.” (Alexandra, 2018). Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) dalam Alexandra (2018), terdapat dua jenis knowledge, yaitu: Tacit Knowledge dan Explicit Knowledge.

Menurut Sari (2019), “Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang terdapat di dalam pikiran seseorang sesuai dengan pemahaman dan pengalaman orang itu sendiri”, sedangkan “Explisit Knowledge yaitu pengetahuan yang sudah dikumpulkan serta diterjemahkan ke dalam suatu bentuk dokumentasi (tertulis) sehingga lebih mudah dipahami oleh orang lain

 

Sederhananya, Tacit Knowledge adalah pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran atau diri seseorang dan belum diekspresikan ke dalam bentuk format fisik. Ini lah yang menjadikan Tacit Knowledge ini unik karena masih tersimpan dalam pemikiran seseorang. Sedangkan Explicit Knowledge adalah pengetahuan yang sudah diekspresikan atau dituangkan dalam bentuk fisik.

(sumber gambar: Dokumen Pribadi)

Contohnya,

Tacit Knowledge: saat seorang dosen menilai skripsi mahasiswanya dan dosen tersebut mengomentari tema penelitian skripsi mahasiswa tersebut cukup menarik. Kata “cukup menarik” ini sulit untuk diuraikan karena menurut satu dosen dengan dosen yang lain bisa jadi akan berbeda penilaiannya, tergantung pada pengalaman dan sudut pandang dosen tersebut.

Explicit Knowledge: seorang mahasiswa ilmu perpustakaan membeli buku “Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan” agar memahami materi perkuliahan. Buku “Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan” tersebut merupakan bentuk Explicit Knowledge.

 

Kesimpulannya, Tacit Knowledge inilah yang saya sebut dengan “Harta Karun” tersembunyi dalam diri kita, sebab sifatnya yang masih abstrak sebelum kita ekspresikan ke dalam bentuk format fisik seperti buku menjadikan Tacit Knowledge ini menjadi misteri. Selain karena masih bersifat abstrak, “Harta Karun” tersembunyi dalam diri kita ini juga bisa menjadi pembeda antara diri kita dengan orang lain. Sudut pandang, pemahaman, pola pikir tiap orang pasti beda kan. Oleh karena itu, jangan lupa dan jangan malas untuk mengasah harta karun tersembunyi kita ya, ;D

#SalamLiterasi

 

Referensi:

Alexandra, J. (2018, Mei). Tacit dan Explicit Knowledge. School of Information Systems. https://sis.binus.ac.id/2018/05/04/15041/

Sari, W. P. (2019, Januari 7). Eksternalisasi dari tacit knowledge dalam sistem managemen pengetahuan menggunakan chatbots. BINUS UNIVERSITY MALANG | Pilihan Universitas Terbaik di Malang. https://binus.ac.id/malang/2019/01/eksternalisasi-dari-tacit-knowledge-dalam-sistem-managemen-pengetahuan-menggunakan-chatbots/

 

___________________

Semoga Bermanfaat. Ada kritik, saran, koreksi, perbaikan atau punya pertanyaan atau topik yang ingin dibahas?, kita diskusikan di kolom komentar ya!

 

Kunjungi juga social media saya yang lainnya

Facebook: https://www.facebook.com/khabibulumam97/

Instaram: https://www.instagram.com/umamkhabib/

Kamis, 08 Oktober 2020

Makna “Galau” Saat Dibedah dengan Pisau Ilmiah


 

(sumber gambar: idntimes.com)

“GALAU”, Kata yang terdiri dari 5 guruf ini sudah akrab dengan kawula-kawula muda, lebih tepatnya pada kawula-kawula muda yang tengah dimabuk cinta dan pada umumnya, sedang mengalami masalah dalam kisah asmaranya.

Sebagai kalimat yang sudah familiar, sudah pasti khalayak sudah mengerti dengan makna kata “galau” itu. Sebagai salah satu dari kawula muda yang tengah mengalami masa “galau” itu, pemahaman saya tentang galau kurang lebih juga sama dengan apa yang dipikran anda, kegelisahan, tidak tenang, risau, dan lain sebagainya.

Namun, sebagai seorang yang “kurang peka” dan sering bermain dengan logika, saya ingin mencoba mengotak-atik sudut pandang dan persepsi saya tentang “makna galau”. Jika pada umumnya galau itu dimengeri dan dimaknai melalui rasa, sekarang saya ingin mengeksplor diri saya dan mencoba merepresentasikan makna galau dari sudut pandang logic, alias pakai pisau ilmiah.

Wuissss, dari redaksional kalimatnya aja sudah beda lhur, dari “memaknai” menjadi “merepresentasikan”, angel, wes angel…haha

Bicara dari sudut pandang ilmiah gak bakal afdhol dong kalau tidak ada referensinya. Yap, salah satu titik acuan saya untuk merepresentasikan makna galau dari sudut pandang ilmiah tersebut adalah dengan melalui mini riset untuk mengumpulkan referensi tentang apa itu “galau”, dan dari referensi yang sudah saya kumpulkan secara sederhana tersebut barulah kita bedah. 

Apa itu “galau” menurut KBBI daring

KBBI atau singkatan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakah rujukan wajib jika temen-temen ingin mengerti makna suatu kata dan bentuk baku dari suatu kata. Dalam kesempatan kali ini, saya menggunakan KBBI online agar lebih cepat dan ringkas dalam mencari makna galau (biar cepet dapat jawabannya juga mblo…haha). Nah KBBI online ini sendiri memiliki dua versi, yakni KBBI versi mendikbud (https://kbbi.kemdikbud.go.id/) dan KBBI web (https://kbbi.web.id/). Ya karena sama-sama online dan mudah digunakan ya pakai aja dua-duanya, biar sekalian bisa dibandingkan.

Menurut KBBI Kemdikbud (https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/galau), galau hanya memiliki satu makna adjektiva, yakni kacau (tentang pikiran). Dilihat dari penjabaran maknanya, galau menurut KBBI mendikbud ini lebih jelas dan terarah, kalau saya menyebutnya sangat terperinci. Kenapa?, karena KBBI Mendikbud ini langsung mematok makna galau adalah kekacauan tentang pikiran.

Namun, KBBI mendikbud ini memiliki satu kelebihan, yakni kamus thesaurus atau padanan kata. Karena penasaran, terbawalah saya untuk nge klik apa sih padanan kata “galau”. Nah di dalam web thesaurus mendikbud tersebut disebutkan bahwa galau memiliki 4 padanan kata, yakni “keraguan”, “keraguan (berat otak)”, “sedih”, dan “putus asa”. Lebih jelasnya mampir aja ke link ini http://tesaurus.kemdikbud.go.id/tematis/lema/galau

Adapaun galau menurut KBBI web (https://kbbi.web.id/galau), galau memiliki tiga penjabaran makna, yakni “sibuk beramai-ramai”, “ramai sekali”, dan “kacau tidak keruan (pikiran)”. Dari jumlah penjabarannya saja sudah beda ya, dimana di KBBI web ini terdapat tiga penjabaran dan dari ketiga penjabaran ini yang menurut saya masih nyambung ya penjabaran yang ketiga, yakni “kacau tidak keruan (pikiran)”.

Googling

Dijaman serba digital dan online ini apa sih yang tidak diketahui “pakdhe Google”?. Selain mencari pencerahan tentang pengertian galau dari KBBI online saya mencoba memperluas persepsi dengan melakukan googling, aslinya browsing sih tapi entah kenapa pada nyebutnya googling.

Karena algoritma google yang sudah cukup pintar dan objek pencarian yang tidak ribet, saya cukup memasukkan kata kunci “galau” tanpa imbuhan apapun pada kolom pencarian google.

Hasilnya….

Eng ing eeeng…

Sebanyak sekitar 21.600.000 atau dua puluh satu juta enam ratus ribu hasil pencarian per 0,37 detik. 0,37 detik gaes. Tak ulangi lagi 0,37 detik. Batinku “jangkrek, dua puluh satu juta enam ratus hasil dalam kurun waktu sepertiga detik”. masyaAllah, apakah ada banyak budak-budak cinta yang tengah galau di saat saya melakukan googling ini (9 oktober 2020 pukul 1.29 AM WIB).

Tapiii…, setelah saya perhatikan lebih seksama lagi, postingan yang mengandung “galau” tersebut kebanyakan dimuat oleh media berita. Bisa jadi konten yang mengandung “galau” merupakan konten yang menarik untuk diulas dan menjadi bacaan hiburan tersendiri bagi pembaca media berita online tersebut.

Karena tertarik, saya mencoba membuka link yang muncul paling atas, di sana terdapat sebuat artikel yang dimuat oleh media online dengan judul “30 kata galau yang penuh dengan makna dan menyentuh hati”. Okeh, karena saya tidak ingin terlalu bucin dan menjadikan sudut pandang ilmiah saya menjadi blur, saya memutuskan tidak melanjutkan membaca artikel tersebut. Selengkapnya silakan baca di https://www.merdeka.com/jabar/30-kata-galau-yang-penuh-makna-dan-menyentuh-hati-kln.html

Adakah “galau” dalam Google Cendekia?

“adakah galau dalam google cendekia?”. Sebetulnya pertanyaan ini lah yang menggelitik saya untuk membuat tulisan yang cukup panjang ini. feeling pertama saya, kata galau adalah kata yang jauh dari kata ilmiah, akan susah untuk menemukan kata galau dalam portalnya jurnal milik google tersebut.

Dan ya, pertama kali saya memasukkan kata kunci galau di kolom pencarian google cendekia yang muncul adalah nama pengarang yang ada kata “galau”nya. Artikel ilmiah yang saya harapkan mengandung galau belum muncul juga. Saya coba lagi dengan menggunakan metode Boolean dan tetep tidak nemu juga.

Akhirnya, saya menggunakan alternative lewat advance search google cendekia. Kata kunci yang saya masukkan masih tetap galau tanpa imbuhan apapun, bedanya, pada advance search ini saya mempersempit lingkup pencarian hanya pada judul yang mengandung kata galau.

Alhamdulillah, ada hasilnya…haha, agak lucu juga sih, tapi artikel ilmiah pada google cendekia yang mengandung kata galau ini bukanlah artikel yang main-main. Bukan kaleng-kaleng.

Didapatkan hasil sekitar 77 hasil pencarian dalam waktu 0,05 detik.

Meskipun hasilnya cukup banyak dan merupakan artikel ilmiah semua, setelah saya amati secara global, padaumumnya kata galau dalam judul artikel tersebut bukanlah merupakan subjek utama pembahasannya. Melainkan kata galau tersebut adalah kata imbuhan atau brand nama sebuah usaha.

Yaaah, gagal mencari makna galau dalam google cendekia deh…heuheu

Meskipun tidak menemukan artikel yang menjelaskan secara langsung apa itu galau, setidaknya dari ketiga proses mini riset sederhana di atas kita bisa mendapatkan beberapa referensi tentang pengertian galau.

 

 

Bersambung pada postingan blog saya selanjutnya yaaaa, sudah pagi…hihi

Senin, 29 Juni 2020

WANI Trial and Error


Trial and Error" : Habiskan Jatah Gagalmu | Bahaso
(sumber gambar: blog.bahaso.com)


“Ananing Biso Jalaran Wani Nyubo”

Adanya #Bisa [meraih sesuatu] Karena #Berani Mencoba (Bahasa Jawa)

 

Saya yakin, setiap kita memiliki ide-ide, gagasan-gagasan, atau inovasi-inovasi yang selalu berlalu lalang di pikiran kita. Entah itu sebuah gagasan yang brilian yang belum pernah ada sebelumnya. Atau bahkan hanya sekedar ide nyleneh sederhana yang mak bedunduk (tiba-tiba) muncul di pikiran kita dalam keseharian kita. Saya yakin hal itu sering terjadi, saya sendiri pun juga demikian.


Dari ide-ide itu ada yang menurut kita ide itu termasuk unik, orisinil, belum pernah ada sebelumnya, dan syukur-syukur solutif. Menjadi alternatif jawaban atas suatu permasalahan yg (mungkin) belum terpecahkan. Dari jam ke jam, dari hari ke hari ide yang menurut persepsi kita “unik” itu seperti hantu gentayangan yang membayangi pikiran kita. Nongoooool mulu.


Sampai akhirnya, kita berusaha untuk mencoba mengaplikasikan ide itu. Pada tahap ini, saya yakin banyak diantara kita yang merasa malu atau sungkan untuk menyampaikan ide gagasannya. Why?, ngopo kog gak wani ngomong ke idemu?, kambing hitamnya pasti adalah “Alah ide ini nyleneh kog”, “Alah ide ini pasti sudah ada yang mikirin kog” “Aku takut kalau percobaanku gagal”. Weduuuus wedus.

Lhur-lhuur, tak kandani, (yo termasuk aku ngandani awakku dewe lhur).

Kamu punya “ide atau gagasan atau inovasi atau bahkan penemuan”, APAKAH ITU SALAH?

Saat kamu punya ide, gagasan, inovasi, karya, atau penemuan dan mampu kamu publish ke orang lain, entah itu keluarga, teman, si doi, atau bahkan masyarakat umum, KAMU BANGGA NGGGAK?

Dan kalaupun pahit-pahitnya adalah kamu punya ide, kamu sampaikan pada orang lain, tapi ditolak, APAKAH DUNIA AKAN KIAMAT jika gagasanmu tidak diterima?, ORA., bisa jadi mungkin orang lain butuh waktu untuk memahami gagasanmu. Sampaikan aja dulu.


TRIAL dan ERROR itu lumrah dalam sebuah proses. Kamu punya ide kamu uji cobakan, di Trial. Eh hasilnya Error?!!, evaluasi di mana letak kesalahannya, lalu diuji coba lagi, EROR LAGI?!, EVALUASI LAGI, lalu COBA LAGI, EROR LAGI!!, EVALUASI LAGI, COBA LAGI, tetep EROR, EVALUASI MANING, JAJAL MANING.

Cari | Journal Learning : Trial and Error

(sumber gambar: jurnal.stkippgri-bkl.ac.id)


Semakin sering ERROR dalam TRIAL yang kamu coba, maka hasil akhir yang akan kamu hasilkan nanti sudah pasti akan berkualitas. Sebab karyamu itu telah berulangkali diuji coba dan dihadapkan dengan eror dan dievaluasi.


Adanya karyamu bisa terwujud, bukan karena KONSEPNYA YANG MATANG, bukan karena MODALNYA YANG BANYAK, juga bukan karena KAMU DISKUSIKAN KESANA-KEMARI. Tapi karena KAMU BERANI MENCOBANYA DAN SIAP DENGAN RESIKO KEGAGALANNYA.

 

#KeyWord

#Inspirasi

#Nulis

#UmamScrip

Rabu, 24 Juni 2020

Senin, 06 April 2020

Titik Lenting


5 Cara Sederhana Belajar Metode Montessori Pada Bayi
(sumber gambar: suara.com)
#Kembali ke djalan jang [kajaknja] benar

Hidup tak ubahnja sebuah perdjalanan mengarungi samudera waktu. Mj life mj djournej, dimulai dari saat kita dilahirkan di dunia, digendong oleh orang tua kita, perlahan kita mulai bisa melangkah, hingga achirnja kita bisa berlari, kita sudah dewasa. Seiring berdjalannja waktu kita bisa berpikir untuk mandiri, mengerdjakan tanggungdjawab kita sendiri. Seolah kita sedang memerankan peranan watak kita dalam perdjalanan hidup kita.

Saat pertama kali kita hadir di dunia ini kita tidak membawa apa-apa, [bisa djadi] itulah mengapa banjak jang mengatakan bahwa baji itu masih sutji, lajaknja kertas putih jang masih polos dan belum ada tjoretan sama sekali. Kemudian kertas itu mulai terisi dengan tulisan-tulisan dan tjoretan2 tentang kisah hidup si baji tadi. Lika-liku kisah perdjalanan kita mewarnai [atau bisa djuga menodai] lembaran kertas putih jang kita punja.

Beruntunglah orang jang mengisi kertas putihnja dengan kisah dan warna-warni kehidupan jang positif dan menjenangkan. Namun, apakah semua orang demikian?, kenjataannja tidak!. Ada sebagian orang jang mengalami ketidaknjamanan kehidupan. Kisah hidup jang ditulisnja pada kertas putih jang ia punja adalah kisah jang tidak menjenangkan, warnanja pun berantakan tak beraturan jang membuat mata risih untuk melihatnja. Kemudia, what tjan we do?

Djika fitrahnja manusia dilahirkan dalam keadaan sutji bak kertas putih jang bersih, maka manusia pun djuga bisa kembali ke fitrahnja. Kembali ke djalan jang [kajaknja] benar. Melenting. Salah satu upaja jang bisa kita lakukan untuk berbenah diri mendjadi pribadi jang lebih baik dari sebelumnja.

Tjarilah atau bahkan buatlah momen jang bisa mengingatkanmu untuk selalu kembali ke djalan fitrahmu sebagai manusia. [insjaAllah], tulisan ini adalah salah satu titik lenting kehidupanku untuk memulai menuliskan tjerita hidupku. Menuliskannja dalam sebuah blog sederhana jang bisa ku buka kapanpun dengan konsep jang berbeda dari sebelumnja. 

Kamis, 12 Desember 2019

Break Boleh, Stop JANGAN!



Setiap kita pasti punya keinginan, atau sebut saja cita-cita. Baik itu cita-cita yang mulia seperti menjadi guru, cita-cita yang milenial dengan menjadi Youtuber, atau cita-cita yang mainstream, menjadi penulis (ini missal lho yaaaa).

Diawal-awal kita memikirkan cita-cita tersebut pastinya kita punya planning akan begini begitu untuk mencapai cita-cita tersebut. Seiring berjalannya waktu kita mulai menapakkan satu per satu langkah kita untuk menggapai cita-cita tersebut. Diawal kita masih dekat dengan garis start rasanya bahan bakar semangat kita masih penuh. Seiring bertambahnya langkah, seiring jauhnya langkah yang sudah kita lewati terasa mulai agak berat. Perlahan kita mulai keberatan, hingga akhirnya kita mulai sadar bahwa bahan bakar semangat kita sudah menipis.

Kita ingin berusaha untuk bangkit tapi pada akhirnya kita tidak bisa mengelak bahwa bahan bakar semangat kita sudah benar-benar tipis dan hampir habis. Dan hingga pada titik terjenuh kita ingin berhenti mengejar cita-cita kita.  Kita sudah kehabisan ide, kita sudah tidak punya waktu untuk mengejar cita-cita itu, pun kalaupun kita maju sudah tidak ada yang mensupport kita. Done, We END!

Akankah berakhir begitu saja?

No no no, tunggu sebentar. Sebelum kita benar-benar akan memutuskan untuk berhenti, lihatlah kebelakang. Ingat kembali tentang masa-masa dimana kita mulai membangun merealisasikan angan kita menjadi realita. Melalui setapak demi setapak langkah untuk membangun cita-cita kita. Bukan waktu yang singkat, bukan langkah yang mudah, dan bukan pula hal sepele yang akan dilupakan begitu saja.

Saat kita sudah memutuskan untuk melangkah maka jangan pernah berpikir untuk berhenti. Memang benar, kita adalah manusia, kita akan merasa lelah, perasaan kita bukanlah api abadi. Akan ada masanya kita akan jenuh dan bahkan mempertanyakan “buat apa sih aku capek-capek seperti ini?, hasilnya juga tidak jelas”. Dan Yes, That’s True.

Pada posisi seperti ini boleh jika  kita ingin break dan menghela nafas sebentar. Kembali mengumpulkan semangat kita, menumbuhkan kembali ide-ide dan inovasi yang akan kita lakukan untuk merealisasikan ide tersebut. Agar nantinya kita akan terisi kembali dengan bahan bakar yang akan memacu kita untuk melangkah menuju cita-cita kita.
Istirahat boleh, berhenti JANGAN!.

Rabu, 20 November 2019

Nikmatnya kegagalan


(sumber gambar: gagalituanugerah.blogspot.com)

#ada gagal pasti ada sukses

Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, “Seberapa dalam kita gagal?”, “Seberapa parah kita gagal?”, “Seberapa rugi kita  gagal?”. 

Loh!!!, kog aneh?, 

Gagal kog perlu di ukur seberapa dalamya, seberapa parahnya, seberapa ruginya. Bukankah kegagalan adalah sebuah hal yang menyesakkan hati dan peru untuk kita minimalisir, bahkan perlu kita hindari sampai-sampai perlu kita singkirkan?!!!.

Begini, jika kita masih berpikir bahwa kegagalan adalah hal yang menyesakkan, hal yang perlu dihindari bahkan dibuang jauh-jauh dari kehidupan kita itu artinya kita masih bermental pengecut. Kita tidak siap dengan konsekuensi yang akan kita hadapi di depan dan menyalahkan kegagalan itu sebagai luapan emosi kita. Jika kita masih bermindset seperti ini maka kita belum siap untuk menjadi orang yang sukses.

Hakikatnya Kegagalan justru merupakan kunci untuk membuka pintu kesuksesan. Ibarat jika kesuksesan itu berada diatas, maka kegagalan itu akan berperan sebagai tangga untuk mencapai kesuksesan.

Lalu, mengapa kita perlu mengukur kegagalan kita?. 

Oke, jika kegagalan kita artikan sebagai kunci untuk membuka pintu kesuksesan atau sebagai tangga untuk meraih kesuksesan, bukankah seberapa canggih kunci itu atau seberapa tinggi tangga itu juga akan mempengaruhi capaiannya kan?!!. Ibarat jika sebuah ruangan yang dikunci dengan sandi berlapis menggunakan sensor retina sensor sidik jari, pastilah apa yang ada di dalam ruangan itu sebuah hal yang sangat berharga. Atau semakin tinggi sebuah ruangan atau benda bukankan value nya juga akan semakin tinggi?!

Inti dari maksud saya adalah semakin besar kegagalan kita, maka kesuksesan yang akan kita dapatkan di depan juga akan sama besar atau bahkan lebih besar. Masalahnya tinggal bagaimana kita tetap bisa mempertahankan diri pada saat gagal dan membalikkan kegagalan itu menjadi kunci keberhasilan kita.

Minggu, 17 November 2019

Inspirasi Secangkir Kopi



(sumber gambar: liputan6.com) 

#lihatlah kedalam secangkir kopi. Apa  yang bisa kita ceritakan dari “secangkir kopi”?

Tulisan saya kali ini berbentuk sebuah pertanyaan yang perlu untuk anda jawab. Bukan berbicara soal filsafat, bukan soal sebuah pemikiran yang mendalam, tapi sederhana saja. Sebuah pengamatan. Ya, pengamatan, sebuah skill  yang bisa membantu kita untuk bisa menulis, baik itu menulis ilmiah ataupun fiksi.

Mengapa harus mengamati?, Pertama karena bisa jadi dari pengamatan itu akan menjadi referensi baru bagi kita untuk menulis, alias inspirasi. Kedua karena dengan mengamati kita akan tau sejauh mana kemampuan kita. Sejauh mana wawasan kita, setajam apa pembahasan kita, dan tentunya seberapa teliti pengamata kita.

Oke sekarang kembali ke secangkir kopi. Kira-kira apa yang bisa kita ceritakan dari “secangkir kopi”?!

Silakan tulis pendapat anda pada kolom komentar, jawaban yang paling menarik akan saya ulas pada tulisan saya selanjutnya…. :)

Jangan ketinggalan untuk berkomentar ya….  :D

Kamis, 14 November 2019

Antara Bejo dan Nekad



(sumber gambar: Twitter @MemeGambar)

Selama menyandang status mahasiswa total saya baru mengikuti kompetisi menulis 5 kali dan 1 kali lomba desain poster, ya meskipun ada naskah esaynya juga sih. Dari total 6 kompetisi yang pernah saya ikuti Alhamdulillah 3 diantaranya meraih juara, pada tahun 2017 mendapat Juara I LKTI, tahun 2018 mendapat juara II LKTI, dan tahun ini, 2019 alhamdulillah mendapat juara I. ketiganya pada ajang kompetisi yang sama, yakni Forum Ilmiah Ilmu Perpustakaan (RUMILUS) yang diadakan oleh himpunan mahasiswa sastra indonesia di Universitas Negeri Malang.

Pada tahun 2017 saya maju bersama seorang kating, tahun 2018 saya berangkat sendiri, dan yang tahun ini berangkat dengan adek tingkat. Awalnya saya merasa ragu untuk maju pada tahun ini. Sebab saya sedang masa KKN dan laptop saya menjadi perlengkapan kelompok untuk keperluan administrasi. Bisa dibayangkan, di lokasi yang susah sinyal, ditambah dengan rutinitas di lokasi KKN, ditambah laptop saya masih sering di opar-oper sana sini. Dan saya pribadi punya harapan jangan sampai tahun ini saya maju sendiri. Harus ada orang yang saya ajak agar ada regenerasi. Dan Alhamdulillah jerih payah itu membuahkan hasil.

Kisah seperti ini bukanlah pertama kali saya alami. Pada setiap tulisan yang saya buat pasti ada cerita dibaliknya. Meskipun terkadang saya merasa minder apakah tulisan saya yang masih banyak salah di sana-sini ini akan dilirik oleh dewan juri?. Yang terpikir dibenak saya adalah “penting maju”. Antara niat dan nekat mungkin itulah kalimat yang dapat menggambarkan perjuangan saya.

Dan ya, saya juga mengakui. Tulisan ku tidaklah bagus-bagus amat. Bisa jadi gelar juara yang saya peroleh selama ini adalah karena faktor “bejo”. Pun masih ada banyak orang selain saya yang memiliki lebih banyak pretasi kepenulisan.

Namun setidaknya, yang menjadi garis bawah saya adalah, ada action yang saya lakukan. Keberuntungan atau bejo hakikatnya juga tidak akan terjadi jika kita tidak melangkah untuk mencoba. Niat juga tidak akan terbentuk tanpa ada nekad. Mustahil saya akan menjuarai sebuah kompetisi tanpa saya berusaha untuk mengikutinya. Mustahil saya bisa menyelesaikan tulisan dengan niat tanpa ada nekad yang mendorong saya.

Antara bejo dan nekad. Diantaranya ada sebuah usaha nyata yang dilakukan. Buat keberuntungan dan keniatan kita sendiri dengan mengusahakan apa yang patut kita usahakan. 

Selasa, 12 November 2019

Gercep Nulis



(sumber gambar: kautsar-anggakara-ttjj.squarespace.com)

#Seketika ada ide, Seketika ditulis
Pernahkah kita berpikir bahwa kita banyak ide gagasan yang bisa kita taungkan untuk menulis tapi tidak pernah kesampaian untuk ditulis?. Mungkinkah karena saat kita memikirkan ide itu kita tengah berkendara di motor, tengah berada di dalam kelas dan ada guru atau dosen, atau bahkan saat lagi pup, ~eh~, dan pada akhirnya saat kita sudah selesai dengan aktivitas-aktivitas itu ide kita juga hilang?. Bisa jadi hal ini terjadi karena kita menunda untuk menulisnya.

Kalau saya boleh menyarankan, saat kita tengah mendapatkan ilham pencerahan ide untuk bahan menulis, apapun itu, sebanyak apapun itu, sesederhana apapun itu maka bersegeralah untuk menulis. “dan manfaatkanlah waktu ingatmu sebelum dating waktu pikun mu”, “dan bersegeralah kamu untuk menulis apa idemu”, “otakmu itu seperti aliran air, saat ada sebuah ikan yang nongol dan tidak segera kamu kait dengan kail pancing maka ikan itu akan kembali hilang dalam aliran air”, kurang lebih dali-dalil itu yang saya gunakan untuk mengingatkan diri saya agar segera mencatat ide yang saya dapat. Haha.

Kalaun jaman sekarang mah enak, kemana-mana kita pasti membawa gawai. Dan pastinya gawai juga bisa buat mengetik kan?!!. Okelah kalaupun males nulis ya di simpan dalam bentun voice record -_-. Dengan mencatat ataupun merekam sesegera mungkin ide yang tengah menyinari kepala kita tersebut maka ide itu akan tersimpan dengan utuh dan bisa kita kembangkan dalam bentuk tulisan.

“Malas ah nulisnya, toh itu Cuma satu kalimat”.
Hmm, masih bergumam seperti itu ya 0_0, okee, sekarang kita gunakan prinsip “kikir pangkal kaya”

Satu tulisan tambah satu tulisan sama dengan dua tulisan. Dua tulisan tambah satu tulisan sama dengan tiga tulisan. Tiga tulisan tambah satu tulisan sama dengan empat tulisan. (oke cukup, kalau  tak terusin inti pembahasan saya  kali ini tidak akan tersampaikan…)

Intinya, satu gagasan pun tidak masalah untuk dicatat, suatu saat saat kita dapat pencerahan lagi siapa tau umpulan-kumpulan ide yang acak itu bisa saling berkaitan dan saling menguatkan kan?. Sebelum kita menuliskannya dan mengumpulkannya mana kita tau kalau ternyata bisa berpeluang untuk dihubungkan, iya kan!!

Sebab sehebat apapun kemampuan daya ingat kita tetaplah ada batasnya. Catatan atau rekaman di sini berperan penting untuk membantu kita mengingat-ingat banyak hal tersebut. Oleh karena itu, saat kita menemukan sebuah ide untuk menulis, segeralah Gercep nulis. SIKAAAAAT…..!!!!

Privacy Policy


Privacy Policy for Umam Scrip

If you require any more information or have any questions about our privacy policy, please feel free to contact us by email at https://umamscrip.blogspot.com/2019/11/kontak-saya.html.

At https://umamscrip.blogspot.com/ we consider the privacy of our visitors to be extremely important. This privacy policy document describes in detail the types of personal information is collected and recorded by https://umamscrip.blogspot.com/ and how we use it.

Log Files
Like many other Web sites, https://umamscrip.blogspot.com/ makes use of log files. These files merely logs visitors to the site - usually a standard procedure for hosting companies and a part of hosting services's analytics. The information inside the log files includes internet protocol (IP) addresses, browser type, Internet Service Provider (ISP), date/time stamp, referring/exit pages, and possibly the number of clicks. This information is used to analyze trends, administer the site, track user's movement around the site, and gather demographic information. IP addresses, and other such information are not linked to any information that is personally identifiable.

Cookies and Web Beacons
https://umamscrip.blogspot.com/ uses cookies to store information about visitors' preferences, to record user-specific information on which pages the site visitor accesses or visits, and to personalize or customize our web page content based upon visitors' browser type or other information that the visitor sends via their browser.

DoubleClick DART Cookie
→ Google, as a third party vendor, uses cookies to serve ads on https://umamscrip.blogspot.com/.
→ Google's use of the DART cookie enables it to serve ads to our site's visitors based upon their visit to https://umamscrip.blogspot.com/ and other sites on the Internet.
→ Users may opt out of the use of the DART cookie by visiting the Google ad and content network privacy policy at the following URL - http://www.google.com/privacy_ads.html

Our Advertising Partners
Some of our advertising partners may use cookies and web beacons on our site. Our advertising partners include .......

  • Google
  • Commission Junction
  • Amazon
  • Widget Bucks
  • Adbrite
  • Clickbank
  • Linkshare
  • Yahoo! Publisher Network
  • Azoogle
  • Chitika
  • Kontera
  • TradeDoubler
  • Ads-Click
  • Other

While each of these advertising partners has their own Privacy Policy for their site, an updated and hyperlinked resource is maintained here: Privacy Policies.
You may consult this listing to find the privacy policy for each of the advertising partners of https://umamscrip.blogspot.com/.

These third-party ad servers or ad networks use technology in their respective advertisements and links that appear on https://umamscrip.blogspot.com/ and which are sent directly to your browser. They automatically receive your IP address when this occurs. Other technologies (such as cookies, JavaScript, or Web Beacons) may also be used by our site's third-party ad networks to measure the effectiveness of their advertising campaigns and/or to personalize the advertising content that you see on the site.

https://umamscrip.blogspot.com/ has no access to or control over these cookies that are used by third-party advertisers.

 

Third Party Privacy Policies
You should consult the respective privacy policies of these third-party ad servers for more detailed information on their practices as well as for instructions about how to opt-out of certain practices. https://umamscrip.blogspot.com/'s privacy policy does not apply to, and we cannot control the activities of, such other advertisers or web sites. You may find a comprehensive listing of these privacy policies and their links here: Privacy Policy Links.

If you wish to disable cookies, you may do so through your individual browser options. More detailed information about cookie management with specific web browsers can be found at the browsers' respective websites. What Are Cookies?

Children's Information
We believe it is important to provide added protection for children online. We encourage parents and guardians to spend time online with their children to observe, participate in and/or monitor and guide their online activity. https://umamscrip.blogspot.com/ does not knowingly collect any personally identifiable information from children under the age of 13. If a parent or guardian believes that https://umamscrip.blogspot.com/ has in its database the personally-identifiable information of a child under the age of 13, please contact us immediately (using the contact in the first paragraph) and we will use our best efforts to promptly remove such information from our records.

Online Privacy Policy Only
This privacy policy applies only to our online activities and is valid for visitors to our website and regarding information shared and/or collected there. This policy does not apply to any information collected offline or via channels other than this website.

Consent
By using our website, you hereby consent to our privacy policy and agree to its terms.



Update
This Privacy Policy was last updated on: Tuesday, November 12th, 2019.
Should we update, amend or make any changes to our privacy policy, those changes will be posted here.

Sabtu, 09 November 2019

Menulislah Seperti Naruto



(sumber gambar: funimation.com)

#Saat Naruto pun menjadi inspirasi kita untuk menulis.


“Inilah jalan ninjaku”, jargon ini begitu melekat dengan tokoh utama sebuah film animasi. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Naruto. Seorang anak yatim piatu yang tengil dan suka bertingkah sesuaknya sendiri. Tidak memiliki kelebihan saat di akademi ninja, dan cenderung menjadi beban untuk timnya. Namun, meskipun demikian ada hal menarik dari Naruto yang bisa kita ambil hikmahnya, sebuah nilai yang sangat berharga yang bisa kita terapkan untuk kehidupan sehari-hari termasuk juga kita terapkan untuk bidang kepenulisan.

“Inilah jalan ninjaku”. Ya, that’s it. Jargon tersebut merupakan prinsip Naruto. Sebuah prinsip yang mampu membawa seorang anak yang “bakayarou” dan selalu menjadi bahan tertawaan temannya, dibenci oleh orang sedesanya, menjadi seorang tokoh pahlawan yang mampu menarik para penggemarnya. Baik tua maupun muda sangat suka menonton serial animasi ini. Saking melekatnya jargon ini sampai-sampai membawa Naruto untuk mencapai impiannya, yakni untuk menjadi Hokage desa Konoha.

Pertanyaan yang patut kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah “Sudah kah kita mempunyai prinsip yang kita pegang dengan teguh sebagai pedoman hidup kita?”. Kenyataannya sebagian besar orang hidup tanpa prinsip yang jelas. Lebih suka untuk mengalir mengikuti keadaan ketimbang mengikuti prinsip yang diyakini. Dan saat ada orang yang memiliki prinsip yang kuat dan berada didekatnya akan muncul prasangka “nih orang kog kaku”, “nih orang kog kolot”, atau “nih orang kog sok ngatur” . Lantas mau kita apa dan bagaimana?

Saat kita hanya mengikuti perintah dari orang lain kita tidak terima, saat ada orang lain yang mau untuk mengatur kita, mengajak kita menuju arah yang lebih baik di kira sok-sokan.
Melihat perjuangan Naruto untuk memperjuangkan prinsip memang tidak mudah. Resiko untuk dibenci orang lain menjadi sebuah momok yang paling sering kita takutkan. Padahal saat  kita menggantung pada orang lain hakikatnya kita sudah tidak punya pendirian.

Dalam bidang kepenulisan juga butuh sebuah prinsip. Sebuah prinsip yang kuat yang mampu menahan kita untuk selalu aktif menulis. Apapun rintangannya saat kita memiliki prinsip yang kuat, maka tulisan itu pastilah akan jadi. Meskipun orang-orang tidak suka dengan tulisan kita, tidak mau membacanya, bahkan sampai mengkritik dengan pedas tulisan kita, yakinlah pada prinsip kita. Tetaplah pada prinsip kita.

Yakinlah setiap tulisan pasti ada pembacanya.

Layaknya Naruto, “Menuis adalah jalan hidupku!”, kalau kamu…?